Minggu, 23 November 2014

Kayuhmu Tak Mengenal Usiamu

Masih dengan semangat kau kayuh kendaraan roda tiga itu sampai larut malam
Dengan usia yg tak lagi muda, dengan tenaga yg tak lagi sama, yg sekarang sudah mulai merenta

Keringatmu mengalir kesekujur tubuhmu, membasahi pakaian kebesaranmu untuk mengantarkan raja-raja itu menuju singgasana yg mau mereka tuju

Mereka sepasang bidadari kita

Pagi tadi terlihat seorang bapak yg berjalan disepanjang jalan beraspal tanpa alas kaki sambil membawa barang dagangannya yg terkalung dikedua tangannya

Tak muda lagi usia beliau, mungkin sudah beranjak ke lima puluh tahun keatas

Dengan pakaian sederhananya menempel pada tubuh cekingnya karena basah keringat yg dia dapatkan dan dengan memakai peci hitam ciri khas seorang muslim

Rabu, 01 Januari 2014

Jangan lupakan Dia

Jangan lupakan Dia
Bismillaah ar rahmaan ar rahiim

Jujur ini pertama kalinya aku menulis tentang siapa aku dan kehidupanku, yang benar-benar tak jelas.
Apa yg dimaui hati dan otakku sungguh berbeda 180 derajat, dari apapun itu tak terkecuali soal kehidupan yg terkadang harus mengalah pada keadaan disekitar.

Bermula dari kenal kemudian jadi kebiasaan. Memang sulit  untuk melepasnya lagi kalau sudah terlalu lekat seperti apa yg telah aku jalani selama ini.

Kemarau dan Hujanku

Kemarau dan Hujanku
Kemarauku telah terasing dipelataran cahaya mentari yg masih malu untuk berpijar layaknya pagi yg benderang sesampai sore kemarin
Berurung senja menghantam gulita diantara mendung-mendung hitam yg menghangatkan malam dengan dendang-dendang gelak tawa malam
Percikan derai hujan mulai menitik wajah bumi yg lambat laun mengguyur seluruh badannya dengan beramai-ramai, semua suara riuh terdengar hening tanpa ucap

Minggu, 03 November 2013

Langkah awal tugas mulia


Langkah awal tugas mulia
Berlarian diantara debu yg berterbangan tak membuat mereka menyelesaikan permainan dibawah terik matahari yg menyengat tubuh mereka. Hanya sekedar permainan bola sepak dengan bola plastic yg mudah melayang ketika ditendang dan terterpa angin. Keringat yg mengucur membuat permainan mereka semakin seru saja, padahal sebentar lagi mereka harus mengakhirinya dan melanjutkan pelajaran di jam terakhir.

Bel pun telah dibunyikan salah seorang guru yg piket pada hari itu. Semuanya berhamburan kedalam kelas seketika seorang guru yg disegani memerintahkan mereka untuk segera masuk kedalam kelas dan melanjutkan pelajaran. Dan yg terlihat hanyalah halaman sekolah yg sepi, dan debu yg terterpa angin yg mampu membuat gaduh tak terdengar ditengahnya.

Selang beberapa waktu kemudian terdengar sayup-sayup keramaian dari dalam kelas. Ketika sejenak terlihat olehku ada guru yg berada didepan mereka, tapi kenapa mereka tak menghiraukannya? Sempat terpikir, apa yg sebenarnya yg mereka mau hingga seorang guru yg sudah sepuh pun tak mereka hargai. Lalu bagaimana nantinya mereka akan paham dan mengerti apa yg telah beliau sampaikan?

Ada yg bermain sendiri dibelakang, ada yg asyik menggambar, dan ada pula yg tidur-tiduran dengan meletakkan tangan dan kepalanya pada bangkunya. Oh Allah inikah generasi penerus bangsa saat dizaman yg mungkin bisa dianggap modern ini? Bukan memperbaiki prestasi, yg ada malah mereka akan memperburukkannya!

Ini tugasku, tugas kami sebagai seorang calon guru. Mendidik generasi yg bisa dibilang amburadul ini menjadi lebih sopan dan santun, lebih memaknai arti menghormati dan menghargai, serta mampu membuktikan prestasi yg luar biasa meski dari sekolah kecil yg sedikit tersembunyi diantara banguna SD Negeri yg  megah dan perumahan warga yg tertata indah.

Ini awal dari semuanya. Dari sini semuanya akan dimulai.


#salamsenyum (:
.A+

Sabtu, 08 Juni 2013

Senyum Mujahid Kecil



Tangan kecil mungil yg tergetar dengan semangat ketika adzan Ashar berkumandang, berlari meninggalkan kotak bermainnya di antara orang-orang disekitarnya


Bersimpuh dengan khusyuknya memperhatikan dan memahami setiap tatapan-tatapan senyum penuh arti

Senda gurau tak ter-elakkan jadi penghias sore yg seakan mengundang ke dunia khayalan mereka

Satu persatu malaikat-malaikat kecil itupun berhambur menapaki antrian tuk menengadahkan hati serta jiwa mereka ke alam Al Kariim


Alif Ba Ta Tsa Jim Kha Kho ...

dan terkadang terhenti sejenak menghembuskan nafas-nafas penuh kepastian

Qul hu'Allaahu ahad' ..

yg terkadang tersendat dan menantikan pemahaman


Alif Lam Mim ...

yg terkesan tenang dalam barisan" kata perkata dibibir mungil mereka

Sosok-sosok mujahid muda tampak tertanam dalam dada mereka

Semangat yg selalu ada meski tubuh terasa letih karena kesibukan keseharian mereka


Penegak-penegak Panji Islam telah siap berjejer mengemban beribu amanah, berjuang untuk aqidah

Gelak tawa yg menyejukkan hati, mengikhlaskan segala keluh kesah setiap perjalanan yg terlalui

Senyuman mereka menyulutkan api-api kami ketika terlihat redup dan seakan tampak padam


Yaa Allah Yaa Rahman Yaa Rahim

Jangan sampai Engkau menutup hati kami untuk mengembangkan senyuman mereka dalam rumah-Mu

Jangan sampai Engkau menggoyahkan jiwa kami dengan apa yg terlihat di mata kami meski dengan keluh kesah

Jadikan setiap perjalanan kami adalah ibadah

Dan berikan keberkahan pada adik-adik kami yg merelakan menghindar dari kotak mainannya untuk bersama kami dengan ilmu-Mu


aamiin


Ar Rahman Ar Rahim

Jumat, 07 Juni 2013

Kelopak merah

Kelopak merah
Bukan lagi pagi, siang, ataupun malam yg menginginkan cahaya dari yg dirindunya

Namun hati yg dimiliki-Nya inipun mempunyai kerinduan pada yg menciptakannya

Rindu makhluk yg terkadang terkotori oleh rasa pada sesamanya, teruntuk yg belum terhalalkan padanya

Yang terkadang mampu memaksakan satu sampai beberapa titik yg pantas pada tiang berdirinya

Sudah lama tak mengindahkan suatu keindahan ciptaan yg hampir sempurna

Ya, kelopak merah yg dirindu mekar dan merekahnya dipelataran kemuning langit jingga dipenghantar malam

Kelopak mawar merah yg mendiamkan cinta, mengindahkan cinta, dan membuat cinta lebih dan paling berarti diantaranya

Dan kulihat saat ini adalah yg kulihat dulu, masih sama dalam wujudnya namun lebih indah pada perangai jiwanya
Subhanallah

Letakkan kebingungan itu pada canda yg telah kuberi, pada senyum yg telah menari
Diantara fajarmu, pagi, siang, senja dan malammu tetaplah tersenyum disana


Ar Rahman Ar Rahim

Dalam Diam

Dalam Diam
Dentingan keceriaan yang hadir dalam rona kehidupan terkadang hadir sesaat dalam penantian

Berganti dan bergulir cepat bersama hembusan angin yang menjauh dari hadapan satu impian

Meresap kepada kalbu yang mendambakan kerangka asmara yang hadir dari Sang Pujangga Kedamaian Abadi

Menitikkan cita terlampau jauh, namun menghindar dari terputusnya asa seakan tak sanggup untuk berlari

 Bersambut rindu dan rasa ragu untuk membuktikan bahwa itu adalah benar

Aku masih sering mendapati kekalutan ketika hendak menghinggapkan seuntai kata yang mungkin dengan harap dapat bersemi dalam diamnya keadaan ini

Bersahut halus meski tak terdengung dalam pendengarku, dan memintaku tuk segera hadirkan kepastian dalam geraknya

Namun mungkin jika masih sanggup untuk menanti, tak akan ku paksakan impianmu berlalu dalam halusinasi duniamu



Masih tercecer beribu kata yang belum terangkai indah, dan kini ku haruskan untuk menyusunnya lagi dari awal

Dimana aku bukanlah pecundang yang lari dari pengaduan masalah-masalah yang mengindahkan setiap tapak langkah kakiku, namun aku adalah seorang yang mampu hidup dalam balutan kesederhanaan tanpa harus mengemis dan berpura-pura



Kini telah terlihat jelas bagaimana kehidupan yang kujalani, yang sempat terucap dengan apa yang tampak itulah keadaan yang sebenar-benarnya

Tak ada yang berkurang dan tak ada yang tertambahkan pada awal mula serta pengakhirannya



Kala Sang Penguji Hati mengizinkanku mendambakan  sosok indah yang mendamaikan keluh kesah, tak ku siakan waktuku tuk membuat 1 kesempurnaan

Setengahnya masih berada dalam diamnya kasih sayang yang tersimpan rapi di antara berhamburannya benang kesucian milik Sang Maha Cinta

Yang menjadi kekasih-Nya, yang aku dambakan pula dalam ingin dan anganku



Ku lakukan semampuku tuk bertahan, menanti n berbagi dikala harus melewati itu semua

Demi satu cinta yang suci dan penuh dengan rahmat-Mu, bentengi hamba untuk dirinya yang telah Engkau tujukan untukku

Berdiam dalam cinta dan kasih sayang, untuk dapatkan keridhoan yang hakiki dari  Engkau Sang Maha Pencipta Cinta



Dan tak akan gugur meski musim gugur kan menerpanya

Ar Rahman Ar Rahim

Munajat Kecilku

Munajat Kecilku
Rinai embun pagi ini membangunkanku dalam mimpi indah yang Allah berikan padaku ..

Terlihat bayangan-bayangan yang penuh dengan keceriaan menghampiri dan menemaiku dalam taman kedamaian ..

Berlari kesana kemari, memainkan perannya yang sungguh lama untuk ku nantikan, dengan senyuman yang menghangatkan kelopak hati ini ..



Seraya mengangguk penuh ketulusan ketika ku tatap dalam-dalam dalam pelukku, seakan membisikan seuntai kata mesra penuh maksud untuk berbagi hati dalam kebersamaan ..

Tak kurasakan kekhawatran dalam anganku, seakan menjaganya sampai nanti, seakan melindunginya sampai ketempat terindah dalam pangkuan Sang Maha Cinta ..

Meski lisan kan berkata sebaliknya namun hati t'lah berkata jujur, menyambut kebahagiaan yang sama dengan apa yang terukir dalam lautan asmara milik Allah ..



Biduk rindu yang selalu menghaturkan pengikrarnya memulai kehangatan kembali ketika hati t'lah mampu berbagi lagi ..

Awal, ya dari awal lagi akan memulai kerindangan yang sempat tergores pahitnya parang kekecewaan, mengalun bak racun yang berlumur dalam tubuh ..

Sempat tersematkan kata maaf yang berlalu lambat dan menjadikan keadaan berganti nyawa, meregang dan menghilang untuk beberapa masa ..



Mulai ku buka mataku lewat usapan lembut jari-jari manisku, membekas tetesan iluh yang menghiasi penglihatanku ..

Terang, sinar matahari menyinari jendela kamarku tuk bangunkan aku dari lelahku, lelah yang selalu merindui-Nya serta merindukanmu ..

Kubangunkan tubuhku untuk bersandar dalam tegapku, dengan iringan doa yang terpanjat lirih untuk Penciptaku dan pecintaku, dalam harap dan munajat ..



Dalam lamunanku ku masih menyapamu, Assalamu'alaikum ya habiballah?

Purnama dan Pijar Kecilku

Purnama dan Pijar Kecilku
Ini tempat persembunyianku yg kau temukan diantara aku dan Penciptaku
Tak layaknya istana yg megah yg dikelilingi hiasan yg indah, cukuplah satu ruang yg tersaput putih yg sepi, senyap, serta nyaman untukku mengadu
Tak satupun yg mampu hadir disini sebelumnya, mereka hanya bisa berdiri didepannya dan mengetuk pintu-pintu itu
Kalau Allah sudah berkata "Ya", aku tak bisa menolak dan mengelak lagi dan menerimamu sebagai tamuku

Hanya lampu minyak yg bernyala redup mengelilingi ruanganku, disamping adanya kau yg terangi sebagiannya
Bergesernya waktupun tak terasakan ketika pelik-pelik senyum itu semakin merekah dan mendermakan kebahagiaannya
Sungguh, aku tak mampu berkata lagi ketika menemukanmu disana, dan kulihat Allah pun memberikan padaku senyumnya
Perlahan ku asingkan perlahan pandanganku dari pijar-pijar ini, dan menggeser tubuhku dari tempatku berdiri diantaranya
Ku sikukan lenganku ke dinding-dinding ini dengan harap kau mampu memberikan warna padanya ketika ku kehilangan mahkota

Lagi, sedikitnya waktu yg harus tersita dan berlalu meninggalkan aku dan tempatku berniang diri, "Allah meminjamnya lagi"
Hingga kedua binar mata ini membuka dunia ditempat yg jauh dari peradaban, perjuangan ini baru dimulai disini

Ku jemput kau dengan Allah yg menyertaiku, meski tak sesegera mungkin, Allah tahu apa yg terbaik untuk hambaNya


Engkau purnama, maukah temani pijar-pijar kecilku ditempat persembunyianku dan bersabar disana?


Ar Rahman Ar Rahim

Jumat, 05 Oktober 2012

Kisah Uwais Al Qorni, Anak yang berbakti kepada Ibunya

Uwais Al Qarni, Anak yg berbakti kepada Ibunya
Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.

Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan karenanya.Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal banyak orang dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai macam umpatan dan penghinaan lainnya.

Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya, memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik, karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya seraya berkata :“Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari mencuri”.Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya.

Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur. Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya kebenaran.Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung. Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan cara kehidupan Islam. Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum.Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.

Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya.Hari berganti dan musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan Uwais, dan berkata:“Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman.

Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir, bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari, semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya.Tibalah Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di rumah melainkan berada di medan perang.Betapa kecewa hati sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas pulang”.Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan haru.Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya.

Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.”Sesudah itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni bumi”.Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kepada sayyidina Ali r.a. untuk mencarinya bersama.Sejak itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.

 Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka.Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi menemui Uwais al-Qorni.Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais, sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW.

Memang benar ! Dia penghuni langit.Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah nama saudara ?“Abdullah”, jawab Uwais.Mendengar jawaban itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?”Uwais kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”.Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah:“Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”.Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata:“Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”.Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar.

Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya.Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar beritanya.Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin berat.Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu.“Wahai waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh.Lalu kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah, tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang terjadi ?”“Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan dihantam ombak ?”tanya kami.“Dekatkanlah diri kalian pada Allah ! ”katanya.“Kami telah melakukannya.”“Keluarlah kalian dari kapal dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!”Kami pun keluar dari kapal satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam, sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban asalkan kalian semua selamat”.“Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah nama Tuan ? ”Tanya kami.“Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat.Kemudian kami berkata lagi kepadanya, ”Sesungguhnya harta yang ada di kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?” tanyanya.“Ya,”jawab kami.Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam, tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.

Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)

Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi menjadi terkenal di langit.

Sabtu, 15 September 2012

Ksatria Kehidupan


Mimik wajah yg terlihat lelah namun slalu berikan senyumnya kepadaku meski sebentar
Keringat bercucuran membasahi punggungnya yg melawan terik ketika matahari berada tepat di atasnya
Tak hanya sekali namun berkali-kali dan sering membuatku tenang berada didekatnya

Dalam linangan keringatnya yg mengucur deras, masih sempat dia tanyakan apa yg aku butuhkan
Sembari menggenggam secarik kertas ditangannya dan lagi gelak tawa itu membuatku tersenyum
Dia menawarkan berjuta pilihan untuk masaku saat ini dan masaku yg akan datang

Senda gurau memenuhi pelataran terik yg menyengat kulit dan berteduh berjejer bersimpuh diteras bersama sekawanan makhlukNya yg lain
Terasakan begitu nikmat jika suasana ini tak akan terganti dan tak akan hilang
Kasih sayang yg berlari mengelilingi lingkaran kami sambil beriringan dalam dzikir kepadaNya

Terkadang sulit untuk beranjak dari tempat dimana kedamaian hadir didalamnya diantara berjuta pemikiran dunia kami
Pertanyaan dan jawaban yg terlontar terkadang membuat bibir terangkat dan menampakkan gigi taringku
Ini yg seringkali membuatku rindu ketika aku jauh darinya, berdiri jauh dan berada ditempat yg sangat berbeda
Yang teringatkan dalam otakku ucapan-ucapan nasihat dan ibadah kepada Yang Maha Kasih
Meski jauh Allah pastikan ada

Beribu doa sering teriring untukku dari tutur lembutnya
Tak akan kupertaruhkan segala usahanya untukku dengan sebuah kekecewaan

Yaa Allah Ya Rahman
Selalu tegapkanlah ia dalam jalanMu
Berikan kemudahan dalam setiap langkahnya menghidupi keluargaku
Dan izinkanlah hamba membuat dia tersenyum ketika kewibawaanku menjadikan dia bangga saat aku anaknya masih bersama dia

Ketika kecupan tangan bersalam dalam doa dan berganti dengan pelukan kebanggan penuh haru, saat itulah akan ku tantang diriku dalam kehidupanku untuk kalian

Bapak terima kasih, engkau benar-benar menjadi ksatria hidupku

Jumat, 27 Juli 2012

Siapakah Wanita yang Pertama Kali Masuk Surga?


Suatu ketika, Fatimah bertanya kepada Rasulullah, “Siapakah perempuan yang kelak pertama kali masuk surga?”  Rasulullah menjawab, “Dia adalah seorang wanita yang bernama Mutiah.” Fatimah terkejut. Ternyata bukan dirinya, seperti yang dibayangkannya. Mengapa justru orang lain, padahal dia adalah putri Rasulullah sendiri? Maka timbullah keinginan Fatimah untuk mengetahu siapakah gerangan perempuan itu? Dan apakah yang telah diperbuatnya hingga dia mendapat kehormatan yang begitu tinggi?

Setelah meminta izin kepada suaminya, Ali bin Abi Thalib, Fatimah berangkat mencari rumah kediaman Mutiah. Putranya yang masih kecil yang bernama Hasan diajak ikut serta. Ketika tiba di rumah Mutiah, Fatimah mengetuk pintu seraya memberi salam, “Assalamualaikum...!”

“Wa Alaikumsalam! Siapa diluar?” terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam rumah. Suaranya cerah dan merdu.
“Saya Fatimah, putri Rasulullah,” sahut Fatimah kembali.
“Alhamdulillah, alangkah bahagia saya hari ini Fatimah, putri Rasulullah, sudi berkunjung ke gubug saya,” terdengar kembali jawaban dari dalam. Suara itu terdengar ceria dan semakin mendekat ke pintu.
“Sendirian, Fatimah?” tanya seorang perempuan sebaya dengan Fatimah, yaitu Mutiah seraya membukakan pintu.
“Aku ditemani Hasan,” jawab Fatimah.
“Aduh maaf ya,” kata Mutiah, suaranya terdengar menyesal. “Saya belum mendapat izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki.”
“Tapi Hasan kan masih kecil?” jelas Fatimah.
“Meskipun kecil, Hasan adalah seorang laki-laki. Besok saja Anda datang lagi, ya?, saya minta izin dulu kepada suami saya,” kata Mutiah dengan menyesal.
Sambil menggeleng-gelengkan kepala, Fatimah pamit dan kembali pulang.

Besoknya, Fatimah datang lagi ke rumah Mutiah, kali ini ia ditemani Hasan dan Husain. Bertiga mereka mendatangi rumah Mutiah. Setelah memberi salm dan dijawab gembira, masih dari dalam rumah Mutiah bertanya,
“Kau masih ditemani Hasan, Fatimah? Suami saya sudah memberi izin.”
“Ya, juga ditemani oleh Husain,” jawab Fatimah.
“Ha? Kenapa kemarin tidak bilang? Yang dapat izin cuma Hasan, dan Husain belum. Terpaksa saya tidak menerimanya juga,” dengan perasaan menyesal Mutiah kali ini juga menolak.
Hari itu Fatimah gagal lagi untuk bertemu dengan Mutiah. Dan keesokan harinya Fatimah kembali lagi, mereka disambut baik oleh perempuan itu di rumahnya.

Keadaan rumah Mutiah yang sederhana, tak ada satu pun perabot mewah yang menghiasi rumah itu. Namun, semua teratur rapi. Tempat tidur yang terbuat dengan kasar juga terlihat bersih, alasnya yang putih, dan baru dicuci. Bau dalam ruangan itu harumdan sangat segar, membuat orang betah tinggal dirumah.

Fatimah kagum melihat suasana yang sangat menyenangkan itu, sehingga Hasan dn Husain yang biasanya tak begitu betah berada di rumah orang, kali ini nampak asyik bermain-main.

“Maaf saya tidak bisa menemani Fatimah duduk dengan tenang, sebab sayaharus menyiapkan makanan untuk suami saya,” kata Mutiah sambil mondar-mandir dari dapur ke ruang tamu.

Mendekati tengah hari, masakan itu sudah siap semuanya, kemudian ditaruh di atas nampan. Mutiah mengambil cambuk, yang juga di taruh di atas nampan.

“Suamimu bekerja dimana?” tanya Fatimah.
“Di ladang.” Jawab Mutiah.
“Pengembala?” tanya Fatimah lagi.
“Bukan. Berrcocok tanam.”
“Tapi mengapa kau bawakan cambuk?”
“Oh, itu?” sahut Mutiah dengan tersenyum. “Cambuk itu kusediakan untuk keperrluan lain. Maksudnya begini, kalau suami saya sedang makan, lalu kutanyakan apakah masakan saya  cocok atau tidak? Kalau dia mengatakan cocok, maka tak akan terjadi apa-apa. Tetapi kalau dia bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya, agar punggung saya dicambuknya, sebab berarti saya tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya.”

“Apakah itu kehendak suamimu?” tanya Fatimah keheranan.
“Oh, bukan! Suami saya adalah seorang yang penuh kasih sayang. Ini semua adalah kehendakku sendiri, agar aku jangan sampai menjadi istri yang durhaka kepada suami.”

Mendengar penjelasan itu, Fatimah menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian meminta diri, pamit pulang.
“Pantas kalau Mutiah kelak menjadi perrempuan yang pertama kali masuk surga,” kata Fatimah dalam hati, ditengah perjalanannya pulang.
 “Dia sangat berbakti kepada suami dengan tulus. Perilaku kesetiaan semacam itu bukanlah lambang perbudakan wanita oleh kaum lelaki. Tapi merupakan cermin bagi citra ketulusan dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan perrilaku yang sama.”

Nah, bagi para akhwat, siapa yang mau daftar giliran masuk surga selanjutnya? Sok atuh.
:)

Perangkap dan Jurus Setan!



Ibn Al-Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullâh menyebutkan tujuh macam perangkap yang digunakan oleh setan beserta bala tentaranya dalam upaya menjebak manusia. Pada mulanya setan menawarkan kekufuran, mengajak manusia untuk menolak agama, mengingkari keberadaan Allah Swt., menafikkan kenabian para utusan-Nya, dan menolak keberadaan Al-Qur’an secara keseluruhan maupun sebagian dari ayat-ayatnya.


Apabila perangkap yang pertama ini gagal, setan merancang perangkap yang kedua. Yakni perbuatan bid’ah. Manusia ditawari dengan hal-hal yang dapat mencemarkan dan melunturkan kemurnian ajran Islam. Manusia dibisiski keberanian untuk mengurangi atau melebih-lebihkan ajaran agamatanpa dalil dan landasan yang benar menurut agama.

Apabila perbuatan bid’ah berhasil dihindaran, setan menjebak dengan perangkap yang ketiga. Yaitu asdosa-dosa besar, seperti zina, membunuh , korupsi, merampas hak-hak orang lain, minum minuman keras, mengkonsumsi narkoba, dan durhaka kepada orang tua. Setan sangat ingin menjerumuskan manusia kedalamnya. Terutama bagi orang-orang berilmu. Sehingga orang-orang awam dikalangan mereka menganggap bahwa perbuatan si âlim (orang berilmu) tersebut adalah sebagai pembenaran atas suatu kedurhakaan.

Jika dengan perangkap ketiga ini gagal, setan beserta antek-anteknya menggunakan perangkap yang keempat. Manusia ditawari dosa-dosa kecil. Dengan halus ia berkata, “Manusia berbuat dosa itu wajar. Anda malaikat namanya bila tidak pernah berbuat dosa. Lagipula, bukankah Allah Maha Penyayang. Allah akan mengampuni dosa-dosa kecil selama Anda dapat meninggalkan dosa-dosa besar.”

Rasulullah Saw. bersabda, 
“Setiap orang diantara manusia akan membawa sebilah kayu bakar lalu mereka menyalakan api yang besar, sehingga mereka dimasak dan dipanggang di atas api itu. Manusia tetap menganggap dosa sebagai masalah yang kecil sehingga meremehkannya. Maka orang yang melakukan dosa besar dan merasa takut, lebih baik daripada orang yang meremehkan dosa kecil.”

Apabila perangkap yang keempat ini gagal juga, datanglah setan dengan perangkap yang kelima. Manusia diajak untuk menyenangi hal-hal yang mubah. Seperti menonton televisi berjam-jam, ngobrol dengan tetangga sampai berlarut-larut,atau melakukan hal-hal yang mulanya tidak dilarang, tetapi karena keasyikan melakukan hal tersebut sampai-sampai menunda-nunda kewajiban yang harus dipenuhi. Baik kewajiban kepada Allah, kewajiban di dalam rumah tangga, maupun kewajiban sebagai warga masyarakat.

Jika perangkap yang kelima ini pun gagal, tampillah setan dengan membawa perangkap yang keenam. Perangkap yang lebih canggih daripada perangkap-perangkap sebelumnya. Setan menawarkan kepada manusia ibadah-ibadah yang utama, tetapi memalingkan hal-hal yang lebih utama. Di sini setan akan membukakan tujuh puluh pintu kebaikan. Boleh jadi, untuk sampai ke salah satu pintu kebaikan, seseorang harus melakukan suatu keburukan, atau dia harus kehilangan kebaikan yang lebih utama. Manusia ditawari keasyikan berdzikir, sehingga melupakan tugasnya untuk mengatur dan melayani masyarakat yang membutuhkan. Atau manusia dibisiki kegemaran berpuasa sunnah sehingga mengabaikan tubuhnya, sampai dia tidak mampu mencari nafkah dengan baik. Padahal dirinya adalah seorang suami dari istrinya dan ayah dari anak-anaknya yang bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya.

Adapun perangkap yang terakhir adalah pernagkap yang lebih bahaya dan lebih dahsyat lagi. Khusus bagi orang-orang yang bertaqwa, setan akan mengerahkan seluruh bala tentaranya baik dari bangsa jin maupun manusia untuk menyakitinya. Orang saleh itu difitnah, dicaci maki, diganggu ketenangannya, dihalangi perjuangannya. Kebenaran ajarannya akan disebut dusta. Kebersihan pribadinya akan dianggap skandal. Dan nasehatnya akan dikatakan sebagai tindakan subversif atau meresahkan masyarakat.

Allah Yang Maha Penyayang memberikan bekal dan peringatan kepada manusia agar selalu waspada dari kejahatan setan dan seluruh bala tentaranya, yang tidak akan memberikan kesempatan sedikit pun bagi anak cucu Adam untuk menikmati kebebasan mereguk manisnya iman, sebagaimana firman-Nya:

“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu ditipu oleh setan sebagaimana mereka telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan auratnya kepada keduanya.  Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS Al-A’râf [7]: 27)

Nah, ikhwan dan akhwat sudah tahu kan perangkap-perangkap setan yang lengkap dengan jurus-jurus andalannya. Ternyata mereka punya rencana-rencana yang super buat nyesatin kita anak cucu buyut Adam, tapi kita gak boleh terpedaya oleh keahlian mereka buat nyesatin kita, kita balas mereka dengan kekuatan kita yang super duper yang tentunya dengan bantuan dari Allah Swt. So, let’s fighting.

Selasa, 24 Juli 2012

Musuh atau Teman Setan kah?


Dalam kitab Tanbîh Al-Ghâfîlîn, Abu Laits Al-samarqandiy meriwayatkan sebuah hadits, bahwa suatu ketika Nabi Muhammad Saw. didatangi oleh seorang laki-laki tua yang merupakan penjelmaan iblis la’natullâh ‘alaih. Lalu beliau bertanya, ” Siapa kamu?” Iblis menjawab, “Aku Iblis.” “Untuk keperluan apa kamu datang kepadaku?” tanya Nabi Saw. Iblis kembali menjawab, “Aku dipperintahkan oleh Allah untuk menjawa apa yang engkau tanyakan padaku.” Maka Nabi saw bersabda,  “Jika demikian wahai ma’lûn (makhluk terkutuk), beritahukan kepadaku ada berapa macam dari umat-umatku yang menjadi musuh-musuhmu?”

“Ada lima belas macam orang-orang yang menjadi musuh-musuhku. Dan musuhku yang paling utama adalah (1) engkau Muhammad; (2) pemimpin yang adil; (3) orang kaya yang dermawan; (4)pedagang yang jujur; (5) orang alim (berilmu) yang khusyuk dalam ibadahnya; (6) para juru dakwah; (7) Mukmin yang baik hatinya; (8) seorang yang istiqomah dalam tobatnya; (9) Mukmin yang senantiasa menghindari perbuatan dosa; (10) Mukmin yang senantiasa dalam keadaan suci; (11) Mukmin yang gemar bersedekah; (12) Mukmin yang baik budi pekertinya; (13) Mukmin yang banyak memberi manfaat bagi orang lain; (14) Mukmin yang gemar membaca Al-Qur’an; (15) dan Mukmin yang selalu mengerjakan shalat malam.”

Nabi Muhammad Saw. bertanya, “Kemudian siapakah dari umat-umatku yang menjadi teman-temanmu?” Iblis pun menjawab, “Ada sepuluh macam dari umat-umatmu yang menjadi teman-temanku: (1) pemimpin yang zalim; (2) orang kaya yang sombong; (3) pedagang yang curang; (4) para peminum minuman keras (pemabuk); (5) para penghasut dan pengadu domba (provokator); (6) para pezina; (7) orang-orang yang memakan harta anak yatim; (8) orang-orang yang menyepelekan sholat; (9) orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat; (10) dan orang-orang yang panjang angan-angan, yakni mereka yang mabuk dengan kesenangan duniawi.”

Rasululllah Saw. bersabda:
“Bagaimana nasibmu apabila dilanda lima perkara? Aku memohon perlindungan kepada Allah semoga lima perkara ini tidak menimpa kamu atau kamu mengalaminya. Pertama, jika perbuatan mesum dalam suatu kaum sudah dilakukan secara terang-terangan, akan timbul wabah dan penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu. Kedua, jika suatu kaum sudah berani menolak mengeluarkan zakat, Allah akan menghentikan turunnya hujan. Kalau bukan karena binatang ternak, tentu hujan tidak akan diturunkan sama sekali. Ketiga, jika suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan, Allah akan menimpakan musim paceklik dalm beberapa waktu, kesulitan pangan, dan kezaliman penguasa. Keempat, jka penguasa-penguasa mereka melaksanakan suatu hukum yang bukan darri Allah, Allah akan menguasakan musuh-musuh untuk memerintah dam merampas harta kekayaan mereka. Dan kelima, jika mereka menyia-nyiakan Kitabullah (A-Qur’an) dan Sunnah Nabi, Allah akan menjadikan permusuhan diantara mereka. ( HR Ahmad dan Ibnu Majah)



Sekarang ikhwan dan akhwat bisa menilai yourselves masing-masing. So, musuh atau teman-teman syetan kah antum?

Satu yang Kecil


Satu yang Kecil

Dentingan piano dan petikan gitar mengiringi jiwaku melabuh di dermaga Ashar, mengurai merdu panggilan-Nya ketika semua melantunkan dalam hening ..
Bukan untuk pergi meninggalkan dunia namun menyisihkan satu waktu buat Sang Maha Pencipta, dengan alunan pengurai dosa dan perangkai doa ..
Terguyur lembut air penyucian-Mu, meruntuhkan segala amarah dan nafsu duniawiku ..
Terayun langkah menuju istana-Mu, beribu beban terasa terlepas dan seakan melayang di antara bunga-bunga yang menawwarkan keharuman abadi ..
Tergetar raga dan rasa tatkala meresapi seruan asma-Mu dan segala lantunan ayat-ayat-Mu ..
Tergulai lemas layaknya tak kuasa tuk berdiri namun aneh terasa seakan ada yang mengangkat tubuh ini tuk melanjutkan langkahku dihadapan-Mu ..
Ketika keningku ku sandingkan dalam pembaringan-Mu, tergusur rasa cemas dan ragu dalam batinku ..
Di sujudku mungkin tak seindah sujud para kekasih-Mu, namun tetap ku labuhkan seluruh rasa ini dalam lugu sujudku ..
Doa yang kan menjaga hati untuk seorang pemuja seperti aku ini, dalam dekapan Sang Penjaga Hati ..

Ya Allah .. Ya Rahman .. Ya Rahim ..
Semoga ku dapatkan yang terbaik dari yang telah menciptakan aku, Engkau Ya Allah ..
Meski harus penuh kesabaran menunggu dan kerja keras untuk mendapatkannya, tak pernah lepas kalung iman ini dalam hatiku untuk-Mu Ya Allah ..
Aamiin ..

Jumat, 20 Juli 2012

Jilbab Gaul?


Jilbab Gaul?
Islam identik dengan jilbab bagi wanita sebagai pelindung. Yaitu melindungi mereka dari berbagai bahaya yang muncul dari pihak laki-laki, 
“Hai Nabi! Katakanlah pada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agara mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Q.S Al Azhab:59).
Sebaliknya Barat yang notabene Yahudi dan Nasrani mengidentikan pakaian sebagai mode atau trend yang justru harus merangsang pihak laki-laki sehingga mereka bisa menikmati keindahan tubuhnya lewat mode pakaian yang dikenakan. Wanita Barat berprinsip : “Keindahan tubuh adalah anugrah, mengapa harus ditutup-tutupi?”.



Jika kedua pandangan ini digabungkan jelas akan sangat kontras dan tidak akan ada kesesuaian. Maka ditelusuri lebih jauh, munculnya kudung-kudung gaul ialah akibat dari infiltrasia atau perembesan budaya pakaian Barat terhadap generasi pemuda Islam. Namun yang menjadi tanda tanya besar, mengapa hal ini bisa terjadi? Mari kita simak beberapa faktor penyebab dibawah ini :


  • Pertama, maraknya tayangan tivi , dan bacaan yang terlalu berkiblat ke mode barat.
  • Kedua, minimnya pengetahuan anak terhadap nilai-nilai Islam sebagai akibat dikuranginya jam pendidikan agama Islam di sekolah-sekolah umum.
  • Ketiga, kegagalan fungsi keluarga sebagai kontrol terhadap gerak langkah anak-anak muda.
  • Keempat, peran para perancang yang tidak memahami dengan benar prinsip berpakaian yang benar dalam Islam.
  • Kelima, munculnya para mu’allaf dari kalangan artis atau artis yang baru mengenakan kerudung.


Dari lima sebab di atas dapat disimpulkan bahwa dunia Islam, khususnya di Indonesia tengah dilanda degradasi moral yang terjadi secara berkesinmbungan. Generasi muda dicekoki tontonan instan (seks, kekerasan, dan horor). Akibatnya mereka kian permisif dan emosional. Berbagai kekerasan dan seks bebas pun melanda Indonesia, kudung gaul dalam hal ini adalah imbas dari semua itu.

Sumber : “Kudung Gaul”  karya Abu Al-Ghifari

Rabu, 18 Juli 2012

Peringatan Bagimu Wahai Muslimah


Peringatan Bagimu Wahai Muslimah

     Sayidina Ali bin Abi Thalib menceritakan suatu ketika melihat Rasulullah SAW menangis manakala Ia datang bersama Fatimah Az-Zahra. Lalu keduanya bertanya mengapa Rasul menangis. Beliau menjawab, “Pada malam aku di-isra’-kan, aku mmelihat perempuan-perempuan yang sedang disiksa dengan berbagai siksaan. Itulah sebabnya mengapa aku menangis. Karena, menyaksikan mereka yang sangat berat dan mengerikan siksanya.

Putri Rasulullah SAW, Fatimah kemudian menanyakan apa yang dilihat ayahandanya. “Aku melihat perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih. Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya. Aku lihat perempuan tergantang kedua kakinya dengan terikat tangannya sampai ke ubun-ubunnya, diulurkan ular dan kalajengking. Dan aku lihat perempuan yang memakan badannya sendiri, dibawahnya dinyalakan api neraka. Serta aku lihat perempuan yang bermukahitam, memakan tali perutnya sendiri. Alu melihat perempuan yang telinganya pekek dan matnya buta, dimasukkan dalam peti yang dibuat dari api neraka, otaknya keluar dari lubang hidung, badannya berbau busuk karena penyakit sopak dan kusta. Aku lihat perempuan yang badannya seperti himar, beribu-ribu kesengsaraan dihadapinya. Aku lihat perempuan yang rupanya seperti anjing, sedangkan api masuk melalui mulut dan keluar dari duburnya sementara malaikat memukulnya dengan pentung dari api neraka,” kata Nabi SAW.

Fatimah Az-Zahra kemudian menanyakan mengapa mereka disiksa seperi itu? Rasulullah menjawab, “Wahai putriku, adapun mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya menddih adalah wanita yang tidak menutup rambutnyasehingga terlihat oleh laki-laki yang bukan muhrimnya. Perempuan yang digantung susunya adalah istri yang ‘mengotori’ tempat tidurnya. Perempuan yang tergantungkedua kakinya ialah perempuan yan tidak taat kepada suaminya, Ia keluar rumah tanpa izin suaminya, dan perempuan yang tidak mau mandi suci dari haid dan nifas. Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah karena ia berhias untuk lelaki yang  bukan muhrimnya dan suka mengumpat orang lain.

Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka karena Ia mengenalkan dirinya kepada orang yang kepada orang lain Ia bersolek dan berhias supaya kecantikannya dilihat laki-laki yang bukan muhrimnya. Perempuan yang diikat kedua kaki dan tangannya ke atas ubun-ubunnya diulurkan ular dan kalajengking padanya karena Ia bisa shalat tapi tidak mengamalkannya dan tidak mau mandi junub. Perempuan yang kepalanya seperti babi, dan badannya seperti himar ialah tukang umpat dan pendusta. Perempuan yang menyerupai anjing ialah perempuan yang suka memfitnah dan membenci suami.”

Mendengar itu, Sayidina Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra pun turut menangis. Dan inilah peringatan kepada kaum perempuan.

Sabtu, 14 Juli 2012

Senyum... Aku Rindu


Senyum... Aku Rindu

Senyum itu masih tetap merekah tatkala kusempatkan menoleh dalam ketidaksadaraanmu, ku perhatikan lebih dari yang lain ..
Sendumu yang menghiasi harimu kemarin t'lah melenyap seketika, luluh dalam ceria yang kau dapatkan bersama kami ..

Mungkin sedikit sesak kau rasa saat ku menghampirimu dipelataran kebahagiaan yang kau nantikan, lama n mungkin cukup lama kau ingin mewujudkannya ..

Namun semua berubah dari sisi edarmu yang terlihat kusam, layu, dan kehilangan semangat sesampainya kau pijakkan satu langkah menuju penyendirianku disana ..

Meski tak muncul dalam kata dan terucap dalam perbuatan, semua terlihat berbeda dengan dirimu kemarin ..
Kau suguhkan senyuman yang kurindukan, senyuman yang dulu pernah hilang terhempas celoteh-celoteh insani yang mengusir lagumu ..
Senda gurau pun kau tampakkan lagi untukku, layaknya dulu kau pernah berikan hal yang serupa dalam mentariku ..
Perlahan perhatianmu pun menoleh sekali lagi dalam rotasi kehidupan yang selalu berganti setiap detiknya ..

Dibalik cadar itu kupastikan rindumu masih ada, meski rindu itu bukanlah rindu yang dahulu ..
Celah kecil menguatkan akar-akar pusara hati yang menantikan saat yang akan datang ..
Dimasa yang tak berikan penjagaan khusus akan bebaskan segala keraguan yang menyapa merdu di penglihatan, pendengar dan hatimu ..
Dermaga ini menanti kedatangan pesir-pesiar penyeru kedamaian yang abadi dalam balutan keluh kesah, amarah serta setitik dosa yang menyebar ..

Kala waktu bergulir cepat, entah apa yg terlontar dari pengucapku sesaat ku rangkaikan salam untuk jiwa yg sedang menikmati malamnya ..
Terasa tak nyaman dengan seribu kata membisu, menuturkan mutiara-mutiara yang lama tersimpan dalam kalam-Nya ..
Sedikit namun aku mendapat jawaban yang luas dari penyejuk yang selama ini menindihku dengan pengharapan dan kerelaan ..
Sungguh semua yang aku punya mencair seketika, dalam malam yang pekat dengan gelapnya tak bersinar dengan adanya bintang dan tak benderang akan cahaya purnama yang sempurna ..

Pagi mengingatkanku akan besarnya kekuasaan Sang Penciptaku, memulai hal yang teramat kecil hingga Dia sajikan sesuatu yang membuatku bahagia ..
Penatku digantilah dengan kenyamanan, rinduku digantilah dengan kesabaran, cobaanku digantilah dengan kesabaran, dan kenikmatanku digantilah dengan kebijaksanaan ..
Meregup dalam di alam yang sediakan berbagai petualangan dan pelajaran dari hembusan nafas Ar Rahman Ar Rahim ..

Masih merindukan kasih dan sayang-Mu ..
ya Rahman, ya Rahim ...


Kamis, 12 Juli 2012

Pelindungku


PelindungkuTerhatur lirih untaian-untaian kata penuh berkah dari seorang yang patut aku berkaca pada petualangannya ..
Bapak, tak henti-hentinya engkau panjatkan doa dan harapan pada kami, agar kami tak mengalami apa yang telah kau alami ..
Engkau sanjungkan beribu kasih kepada Sang Pemilik Kehidupan dalam setiap munajatmu, dalam diam dan ketika sibukmu menghampiri pilu pun tak terasakan ..
Bapak, engkau penghalu kalbu dalam amarahku, sentuhkan segala rasa harap dalam kalbu terbungkus indah dalam keningmu ..

Ayat-ayat indah-Nya engkau serukan kepada Sang Maha Mengetahui Segala, hanya untuk aku anakmu ..
Bapak, kau tak hiraukan terik matahari yang menghitamkan punggungmu, kelelahan yang membungkukkan tubuhmu, dan keresahan yang menyibukkan hari-harimu ..
Engkau relakan waktu istirahatmu tuk berikan kasih sayang kepada kami anakmu ..
Terlihat senyum itu pelipur laramu, memberikan nasihat yang terindah untuk kami anak-anakmu ..

Bapak, bolehkan aku meneteskan eluh airmata ini dalam pelukmu?
Bolehkan aku bersandar dipundakmu dan memelukmu erat tegap tubuhmu ..
Bapak, persilakan aku anakmu untuk membanggakanmu ..
Karena engkaulah pelindung kami dalam keluarga ini ..